Latest News

BERANI JUJUR

Sunday, June 7, 2009 , Posted by KangBina at 9:41 AM

Lalu Bima menceritakan semua kejadian sebenarnya. Bahwa dia tidak berkata Jujur pada gurunya dengan mengatakan bahwa dia sakit, padahal dia terlambat bangun dan bolos main PS. Mendengar cerita panjang lebar Bima , Pada Awalnya Mama sedikit kaget,tapi ia mencoba lebih bijaksana dan bertanya kepada Bima
“ Kenapa kamu tak Jujur nak ?”
“ Habis , aku takut ma, lagian aku udah banyak terlambat, aku cuma ga mau klo aku nyusahin mamanya nanti klo aku banyak terlambatnya”
“ Aduh nak , kamu tuh masih muda , harus berani berkata Jujur. Masih banyak waktu kamu untuk memperbaiki diri . Lagian kalau kamu gak jujur akan merugikan diri kamu sendiri”
“ Iya, ma aku salah”
“ Mama tau, kamu gak mau menyusahkan mama , tapi bukan begitu caranya nak , itu cara yang salah, tapi gak papa. Lain kali kamu gak boleh mengulangnya lagi ya”
“ Iya Ma, Lain kali aku akan jujur” Ucapnya Sambil memeluk mamanya
“ Nah gitu dong, besok katakana yang sejujurnya sama gurumu”
“Ahhh???” Langsung Bima Kaget , agak sedikit pusing.
“ Tapi Ma, takut di hukum”
“Lebih baik kamu berkata Jujur , daripada kamu jadi was-was dan menanggung dosa karna membohongi orang tua , gimana Hayo ?”
“ Eh, iya deh , aku beraniin diri deh besok” Ucap bima masih ragu-ragu.
“ Nah, beres kan ? Sekarang Kamu tidur ya, istirahat dulu, besok pagi sekolah . Cukup kan satu hari aja istirahat, Cuma kejedut doing kok , heh” Kini Mama tersenyum , sambil mencium kening Anaknya
Mbak Marnah dan Bu Ratih yang berdiri melihat kemesraan Antara anak dan ibunya pun jadi kagum dengan Bu Bima . Setelah itu mereka pergi meninggalkan Bima, dan menutup kunci kamarnya. Bima bisa berlega sedikit, Lalu ia menutup matanya, menuju alam khayalan yang Luas.



Ini penyakit Psikosomatis.
Pastinya ada arus bawah yang bergejolak, tapi tak sempat timbul ke permukaan dalam bentuk komunikasi.
Timbulnya dalam bentuk gejala penyakit gak jelas tadi.

Berani Jujur??
post info
By elanurdiennie
Categories: Uncategorized

Seringkali apa yang kita tunjukkan pada lingkungan sekitar kita adalah sesuatu yang bukan sebenarnya terjadi pada diri kita. kita terus bersembunyi dibalik topeng, dan akhirnya kita menemukan rasa aman itu. rasa aman untuk diterima, disayangi, dihargai, dan dipuji.
Semakin lama topeng itu akhirnya semakin menyatu dalam diri kita. Tapi, apakah itu sebenarnya yang kita mau? apakah kita benar2 nyaman dengan topeng tersebut?
Jawabnya tidak. Karena ada sesuatu dari diri kita yang ternyata secara perlahan tapi pasti akan mati, yaitu hati. Yups, karena topeng, bukanlah diri kita sebenarnya, semakin kita sering menggunakan topeng untuk kepuasan yang ingin kita dapat, berarti kita secara tidak sadar telah membuang hati kita, sehingga apa yang kita dapat, apa yang kita hasilkan,tidak akan pernah membuat kita merasakan kepuasan yang sesungguhnya, karena pada kenyataannya kita hanya akan tersenyum, tertawa, dan bahagia hanya berdasarkan ekspresi topeng yang kita tunjukkan, kebahagiaan itu tidak muncul dari hati. Oleh karena itu, walaupun orang lain menganggap kita bahagia, punya segalanya, tapi kita tak bisa berbohong bahwa sebenarnya kita hidup dalam kekosongan.

Jadi apakah kita akan terus hidup dengan memakai topeng tersebut??
Jawabannya terserah kita

Tapi secara pribadi, aku ingin melepas topeng ini sesegera mungkin, dan mengembalikan hatiku ke posisi semula. aku ingin semua yang kulakukan bisa kurasakan dengan hatiku. aku merindukan saat itu, dimana hatiku dapat tergetar ketika aku mendengar/ melihat orang yang sedang dalam kesusahan, aku ingin merasakan lagi hatiku yang dulu, yang dapat bergetar ketika kubaca ayat2NYA, karena hanya orang2 yang seperti itulah yang dikatakan sebagai mu’min sejati, yang dapat merasakan manisnya iman. untuk itu, aku harus jujur, jujur pada orang lain, jujur pada diriku sendiri, dan jujur pada Sang Maha Pengampun tentang semua kekuranganku, semua kesalahan dan dosaku yang selama ini kututupi dengan topeng.

Terimakasih sahabat,karena sekali lagi, dirimu telah membuat perubahan dalam hidupku. menyadarkanku akan dosa2 yang telah kuperbuat, membuat aku berani untuk jujur padamu, membongkar semua topeng2 yang kupakai selama ini.
walaupun sekarang aku belum bisa merasakan hatiku lagi,tapi aku yakin, dengan adanya dirimu yang akan mengingatkanku, aku dapat kembali, kembali ke diriku yang dulu.
“Yaa Muqollibal qulub, tsabbit qolbii alaa diinika”

CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Jujur
Samuel Mulia - Penulis mode dan gaya hidup

Belum lama ini saya ditanya dalam sebuah acara talk show di radio, apakah susah menjadi jujur? Dan berisikokah itu?

Saya jawab, ”Waduh… saya ini jujur, makanya banyak orang enggak suka sama saya.”

Saya katakan lagi dengan jujur, saya bisa tidur nyenyak. Yaa... tetapi yang mendengar kejujuranmu yang enggak bisa tidur. Nurani saya nyeletuk seperti itu. Maka, sekarang saya menyarankan orang untuk belajar melatih diri menjadi jujur supaya tak tersakiti dan bisa tidur nyenyak seperti saya.

Risiko? Saya kok pikir semua ada risikonya selama seseorang hidup. Jadi lelaki berisiko, jadi koruptor berisiko, tidak jujur pun punya risiko. Jadi guru berisiko, apalagi jadi muridnya. Jadi presiden sami mawon. Tetapi, berani mengambil risiko, itu bisa seperti pahlawan. Itu yang saya ingin ceritakan.

The Best OEO of The Year

Saya membaca artikel di majalah Fortune edisi September 2008, ”Prada Goes Shopping-For Money”. Untuk dapat bersaing di dunia mode, rumah mode itu memerlukan dana segar, selain itu untuk membayar utang.

Awal tragedi itu gara-gara rumah mode ini memiliki saham di tiga rumah mode lain dan satu rumah sepatu. Fortune menjelaskan demikian. Prada, however lacked the capital and managerialstrength to cultivate those acquisitions. And that’s when the trouble started. ”Prada has too much debt,” kata Frederico Lalatta dari Boston Consulting Group. ”If they can’t go public, they will be walking a fine line,” jelas dia lagi.

Dalam majalah itu dibeberkan juga, Pak Bertelli, suami Ibu Miuccia Prada, seorang yang temperamental dan yang telah membuat banyak eksekutifnya tak bertahan lama bekerja bersama dia. But his management style—marked by temper tantrum and a tendency to micromanage—has led to high turnover among Prada’s executives. Bertelli flew into a rage because the sheetrock was uneven. To express his displeasure he smashed a mirror that was hanging on the wall. ”You need a certain personality to work for the company,” kata Brian Hence yang bisa bertahan sepuluh tahun bekerja untuk dia sebelum menjadi presiden rumah sepatu kondang, Jimmy Choo, Amerika.

Awalnya saya berpikir, apakah citra rumah mode ini tak akan babak belur setelah liputan itu dibeberkan ke seluruh dunia? Maklum, buat masyarakat mode citra itu pentingnya luar ”binasa”. Bahkan menjadi munafik sekalipun tampaknya malah sebuah kebenaran. Dan kalau mengingat pelajaran nonformal di kafe dari teman-teman saya yang bekerja sebagai humas, maka liputan mengenai kejujuran macam begini adalah tindakan yang mencoreng muka.

Namun, saya merasa kejujurandalam liputan itu memberi saya sesuatu, terutama sekarang saya mendadak harus mengurus perusahaan peninggalan keluarga. Saya belajar saya tak boleh temperamental lagi, harus berhati-hati membelanjakan uang perusahaan dalam mengembangkan bisnis, dan sejuta masukan yang sangat berarti.

Buat saya kejujuran macam ini bak pahlawan karena umumnya yang saya baca di majalah semacam Fortune adalah kehebatan seorang pemimpin, tak pernah membeberkan kelemahannya untuk menjadi pelajaran.

Makanya saya suka bingung. Di sini, kejujuran diusahakan sebisa mungkin ditutup, di luar dibuka habis-habisan. Terus saya cuma bertanya buat apa yang di sini ditutup, lha wong saya juga berlangganan majalah luar. Dari sanalah saya mengetahui Carla Bruni itu siapa, Obama itu latar belakangnya macam apa, dan pacar Marc Jacobs itu jenis kelaminnya seperti apa.

Jadi, kejujuran yang tampaknya negatif pun ternyata bisa memberi sumbangan positif buat orang lain, meski harus diakui yang negatif memang lebih enak dijadikan bahan gosip. Itu mungkin yang membuat orang tak berani jujur, meski tahu itu bisa membantu orang lain.

Mungkin citra itu jauh lebih penting daripada membantu memelekkan orang. Maka, mungkin kalau ada pemilihan The CEO atau COO atau OEO (artinya Oh… Executive Officer) of the Year, maka penghargaan itu sebaiknyadiberikan kepada mereka yang berani membeberkan kejujuran dalam menjalankan usaha yang membuat orang lain naik kelas.

Salon 24 jam

Belum lama ini, saya menyaksikan tayangan film dengan Richard Gere sebagai bintang utamanya. Saya lupa lagi nama judulnya. Film itu tentang pemilihan Presiden Amerika. Saya suka adegan ketika seorang calon presiden sedang ”dibenahi” oleh seorang Image Consultant. Ia menata rambut si calon presiden, dirias wajahnya, mengenakan setelan apik, kacamata dilepas digantikan dengan lensa kontak, diatur mesti berbicara ini dan bukan itu.

Akan tetapi, Mas Richard malah menyarankan sang calon presiden untuk menjadi apa adanya, menjadi jujur saja. Kata Mas Richard, ”Kalaupun mereka (masyarakat) menganggap kejujuranmu itu bodoh, itu tak masalah.”

Singkat cerita ia menang karena ia jujur. Saya tak tahu apakah pemilihan presiden di mana pun bisa menggunakan saran dari Mas Richard. Apakah itu hanya terjadi di layar lebar? Di Hollywood?

Kalau ternyata saran itu bisa digunakan, saya bertanya siapa kira-kira calon presiden yang akan menggunakan. Yang berani untuk tidak menjanjikan bulan madu, tetapi sesuatu yang nyata. Saya sendiri juga sering seperti image consultant untuk diri sendiri. Memoles diri, sampai kadang saya tak tahu saya ini mau apa dan saya ini siapa.

Saya senang membuat citra karena tampak luar yang sesaat itu penting. Bicara diatur, senyum diatur, kalimat yang saya gunakan mengambang meski masih ada nilai kebenarannya. Pokoknya saya bisa cerdik seperti ular dan terlihat tulus seperti merpati. Memesona itu penting, tetapi saya harus juga berpikir, kalau saya terus begitu lama-lama lupa saya ini bukan sedang membuka rumah kecantikan dua puluh empat jam.

Belajar…

1. Menjadi jujur itu baik. Hal yang mudah dinyatakan, tetapi susah dijalankan. Apalagi kalau ada yang menyindir Anda dengan perkataan You know too much! Menjadi jujur yang penting adalah untuk diri sendiri. Kalau ternyata bisa membantu orang lain, itu benar mulia.

2. Berlatih menjadi jujur sama seperti melatih menjadi pembohong. Jalan sedikit berputar itu katanya tidak apa-apa, asal tujuannya tetap pergi ke Bogor. Tetapi, yang berputar sehingga mendarat di Bandung, itu kekeliruan.

3. Menanggung risiko dari sebuah kejujuran. Tetapi kalau tidak kuat, juga tidak apa-apa. Manusia diciptakan dengan sebuah perbedaan kekuatan mental dan kekuatan menanggung beban. Lebih baik Anda jujur karena tidak kuat menanggung risiko, meski kalau takut terus bisa juga berakhir jadi pembohong. Itu kemudian yang membuat Anda tak bisa tidur nyenyak karena harus memikirkan ucapan apalagi yang harus dikeluarkan karena awalnya sudah berbohong. Jadi, Anda terjerat dalam lingkaran setan. Saya pernah dalam situasi itu, sampai lama-lama saya jadi setannya. Itu susah diberantas. Setan kok mau memberantas setan.

4. Untuk tidak membohongi diri sendiri. Karena tidak jujur hanya memberi kesenangan sesaat. Saat Anda menyendiri dan kalau kebetulan punya nurani bawel dan senang berkicau seperti punya saya, waduh… Anda bakal kewalahan. Dan saya ingatkan jangan pernah mencoba membebalkan nurani Anda. Beranikan sekali waktu menjadi sendiri dan mendengar nurani yang bawel. Jangan menghindar, tak ada gunanya, karena setelah beberapa saat menghindar nurani Anda akan berbunyi lagi. Ia tak bisa dihentikan karena ia adalah Anda. Ia bukan jam weker yang bisa dibungkam karena berisik.

5. Untuk tidak menyakiti orang dengan kejujuran Anda. Saya sedang dalam taraf belajar karena kejujuran saya sering membuat orang tersakiti. Menjadi jujur sekaligus bijaksana memang perlu jam terbang. Ingat, latar belakang Anda tumbuh dan berkembang dalam sebuah lingkungan tidaklah sama dengan semua orang. Itu yang menentukan Anda berani jujur lantang, jujur bijaksana, tidak berani atau belum berani jujur, atau menjadi pembohong.

Kejujuran pada diri sendiri sangat erat kaitannya dengan penerimaan diri, maka ketika seseorang tidak berani jujur pada diri sendiri sebenarnya dia tidak siap dan tidak berani menerima keadaan dirinya. Hal demikian dipengaruhi oleh nilai-nilai, keyakinan dan cara berpikir seseorang, karena nilai-nilai, keyakinan dan cara berpikir akan menciptakan apa yang kita rasakan, kita katakan dan kita lakukan, juga akan menentukan hasil yang akan diperoleh, sebab seseorang akan menjadi apa yang dirasakan, diyakini dan dipikirkanya. Kebanyakan orang atau mungkin setiap orang, akan menjalani kehidupannya sesuai dengan model mental dirinya, yaitu sesuai dengan nilai-nilai, keyakinan dan pikirannya dan mengabaikan sesuatu yang berbeda atau berlawanan dengan model mental dirinya. Sayangnya banyak nilai-nilai, perasaan, keyakinan dan pikiran itu terkubur begitu dalam di alam bawah sadar kita, bahkan kita sendiri tidak menyadari bahwa kita memegangnya erat-erat.

Nilai-nilai, keyakinan, dan pikiran ini penting, karena semuanya akan menjadikan siapa diri Anda sebenarnya, menjadikan seperti apa model mental Anda dan akan mendefiniskan siapakah diri Anda sebenarnya. Tiga hal itu akan menjadi cermin yang Anda gunakan untuk memandang dunia, warna apa yang akan Anda lihat, suara apa yang akan Anda dengar, dan akan mengkerangka bagaimana Anda memikirkannya serta kesimpulan seperti apa yang akan Anda buat.

Persolaannya adalah “Telah jujurkah kita pada diri sendiri ? Untuk jujur pada diri sendiri, sangat dibutuhkan keberanian yang besar, melebihi besarnya keberanian untuk menghadapi tantangan lain, selain untuk jujur itu sendiri. Oleh sebab itu, Anda harus berani menjawab ”telah jujurkah saya pada diri sendiri ?”. Kemudian jika memang terdapat beberapa kelemahan dan kekuarangan pada diri, mampukah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi berbagai persoalan, menyongsong senja menanti pagi yang silih berganti ?

Kejujuran pada diri sendiri, akan menjadi energi untuk memperbaiki berbagai kekurangan itu, juga menjadi kekuatan untuk menyatakan bahwa “dalih”, hanyalah alasan untuk menutupi kelemahan atau membungkus kekurangseriusan dalam meraih sesuatu yang dicita-citakan atau meraih kesuksesan yang diidam-idamkan. Kejujuran pada diri sendiri pada perjalanannya akan menjadi modal terbangunnya “pemahaman diri” dan “perasaan diri” secara positif. Jadi, kejujuran pada diri sendiri merupakan modal yang sangat diperlukan seseorang dalam meraih kesuksesan, karena dengan itu seseorang akan memiliki “pemahaman diri” dan “perasaan diri” secara positif.

Pemahaman diri dan perasaan diri merupakan dua pilar yang membangun konsep diri seseorang yang ditegakkan oleh komponen kognitif dan komponen afektif. Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra-diri (self image) dan komponen afektif disebut harga-diri (self esteem). Citra diri adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri: berkompeten atau tak berdaya, pemalu atau ramah, lembut atau kasar, pembelajar cepat atau lambat, dapat diandalkan atau serampangan. Sedangkan harga diri merupakan refleksi perasaan diri, penghormatan diri dan nilai diri, nilai yang kita tempatkan pada diri kita sendiri sebagai orang dan harapan yang kita miliki dari dan untuk diri kita sendiri.

Orang-orang dengan harga diri yang tinggi biasanya merasa nyaman dan percaya diri. Akan tetapi berkaitan dengan harga diri atau citra-diri (self image) terdapat sesuatu yang mesti disadari, karena jika seseorang tidak kontrol maka dia akan memasang harga atau citra dirinya terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan keadaan dirinya. Dengan begitu ia akan menjadi orang yang over confident (terlalu percaya diri) hingga dia akan menjadi sombong (takabur).

Sedangkan orang-orang yang harga dirinya rendah akan merasa tidak bernilai dan tidak nyaman, mereka kurang percaya diri untuk mengatakan apa yang ada dalam benaknya. Orang yang memasang harga-diri (self esteem) terlalu rendah juga akan bahaya, sebab orang yang demikian akan menjadi serba ragu dan minder. Dengan begitu keberanian dan kreativitasnya akan hilang, karena tertutup olah rasa takut dan rasa malu yang berlebihan. Berdasarkan dua hal di atas, coba Anda nilai posisi Anda sekarang, bagaimana pandangan yang Anda pegang tentang diri Anda, apakah positif, negatif atau biasa-biasa saja ? Pandangan diri Anda pada akhirnya akan memandu segala sesuatu yang Anda pikirkan, Anda rasakan dan Anda katakan juga Anda lakukan. Oleh sebab itu, konsep diri (self image dan self esteem) akan memainkan peran sentral dalam kesuksesan seseorang.

Pertanyaannya, bagaimana menurut Anda mengenai diri Anda sendiri ? Apakah Anda menyukai diri Anda sendiri ? Apakah Anda berpikir sebagai orang yang berharga dan penting ? Apakah Anda percaya bahwa Anda patut mendapatkan yang terbaik ? Seberapa nyamankah Anda dengan diri Anda yang sebenarnya? Jika kini Anda merasa rendah diri, pemalu, kurang percaya diri maka segeralah naikan harga diri Anda, akan tetapi jika Anda terlampau percaya diri, itu juga sebuah pertanda ada sesuatu yang kurang tepat dalam memahami diri.

Untuk itu, terdapat beberapa hal yang Anda dapat lakukan untuk menaikkan harga diri Anda, yaitu dengan cara berikut:

1. Daripada menyalahkan orang lain, terimalah tanggung jawab untuk bergembira, mencapai tujuan, menikmati kehidupan Anda;

2. Daripada memusatkan pada kesalahan Anda, lebih baik melakukan sesuatu agar perasaan dan pikiran Anda lebih positif, sehingga dapat membangun kepercayaan diri Anda dan yang membuat Anda merasa lebih baik, kompeten dan berkecukupan;

3. Daripada terus berhubungan dengan para pecundang, bertemanlah dengan orang-orang yang punya harga diri lebih positif dan yang membuat Anda merasa nyaman dengan diri Anda sendiri.

4. Daripada duduk di rumah, ikutilah aktivitas yang Anda senangi;

5. Daripada bersikap kritis kepada diri Anda sendiri dan orang lain, carilah sesuatu yang Anda sukai pada diri Anda sendiri dan pada setiap orang yang Anda kenal dan temui;

6. Daripada mencoba mengubah orang lain, fokuskan untuk menjadi orang yang Anda inginkan;

7. Daripada menjalani hidup di masa depan atau masa lalu, hiduplah di masa sekarang;

8. Daripada mengatakan “saya tidak dapat melakukan ini” atau “saya tidak tahu apapun tentang hal ini”, bacalah, hadiri seminar, belajarlah dari orang lain, lakukan apa pun yang Anda bisa untuk mengembangkan bakat dan keterampilan Anda;

9. Daripada memusatkan pada kegagalan Anda, akui dan rayakan prestasi dan kesuksesan Anda;

10. Daripada terlalu banyak makan dan minum, dan kurang latihan, jagalah diri sendiri, Anda patut mendapatkannya.

11. Daripada mengatakan ”Oh, tidak ada apa-apanya, sungguh”, terimalah pujian orang lain, katakan ”terima kasih” dan nikmati perhargaan itu tanpa rasa malu.

Jadi, konsep diri (citra diri dan harga diri) merupakan faktor yang sangat menentukan perilaku seseorang, karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Jelaslah kini, bila seorang mahasiswa (Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, misalnya) merasa dirinya sebagai orang yang mampu menjadi mubaligh atau menjadi seorang penyiaran Islam, maka ia akan akan berusaha menjadikan dirinya sebagai mubaligh atau penyiaran Islam, ia akan berusaha menghadiri kuliah dengan teratur, mempelajari materi perkuliahan dengan rajin dan sungguh-sungguh, sehingga ia akan memperoleh apa yang diharapkannya itu.

Sebaliknya, jika ia merasa rendah diri dan memandang bahwa dirinya tidak akan mampu menjadi seorang mubaligh (penceramah) atau penyiar ”hebat” maka ia akan mengalami kesulitan meraih harapannya untuk menjadi seorang mubaligh atau penyiar. Kemudian ia akan malas masuk kuliah, tidak rajin mempelajari materi kuliah dan tidak aktif dalam mengikuti pelatihan-pelatihan serta kegiatan yang mendukung untuk menjadikan dirinya sebagai mubaligh (penceramah) atau penyiar ”hebat”. Sebab ia hanya akan mengangap bahwa dirinya tidak mungkin bisa menjadi seorang mubaligh atau menjadi atau penyiar Islam yang ”hebat”.

Dengan begitu, konsep diri bukan hanya sekedar gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian Anda tentang diri Anda. Konsep diri meliputi apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda rasakan tentang diri Anda. Oleh sebab itu, Anita Taylor et al (1977) mendefinisikan konsep diri sebagai “all you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you hold about yourself”. Jadi untuk sukses menjadi seorang mubaligh (penceramah) atau penyiar Islam akan banyak bergantung pada apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda rasakan mengenai diri Anda, artinya kesuksesan Anda sangat besar dipengaruhi oleh bagaimana konsep diri Anda, positif atau negatif.

Untuk menilai diri Anda, apakah positif atau negatif dalam kerangkan konsep diri, menurut William D. Brooks dan Philip Emmert (1976) memiliki tanda-tanda orang yang memiliki konsep diri yang negatif, sebagai berikut:

1. Ia peka pada kritik, orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah marah atau naik pitam;

2. Respnsif sekali terhadap pujian, walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian;

3. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain dan ia merasa tidak diperhatikan, karenanya bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban pershabatan; dan

4. Bersikap pesimis terhadap kompetisi, seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi.

Sebaliknya, orang-orang yang memiliki konsep diri positif secara umum akan ditandai dengan lima hal berikut:

1. Ia yakin akan kemampuannya menagatasi masalah;

2. Ia merasa setara dengan orang lain;

3. Ia menerima pujian tanpa rasa malu;

4. Ia menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat; dan

5. Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

Dalam kenyataannya, memang tidak ada orang yang betul-betul sepenuhnya berkonsep diri negatif atau positif, tetapi untuk meraih kesuksesan sebagaimana diharapkan oleh Anda maka sedapat mungkin Anda memperoleh sebanyak mungkin tanda-tanda konsep diri positif. Bahkan D.E. Hamachek (1976) menyebutkan sebelas karakteristik orang yang mempunyai konsep diri positif:

1. Ia meyakini betul-betul niali-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempetehankannya, walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Tetapi dia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prisip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan ia salah.

2. Ia bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan, atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.

3. Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang telah terjadi pada waktu yang lalu, dan apa yang sedang terjadi waktu sekarang.

4. Ia memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.

5. Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusiatidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga, atau sikap orang lain terhadapnya.

6. Ia sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai shabatnya.

7. Ia dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, dan menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.

8. Ia cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.

9. Ia sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta, dari sedih sampai bahagia, dari kekecewaan yang mendalam sampai keputusan yang mendalam pula.

10. Ia mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan, atau sekedar mengisi waktu.

11. Ia peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang tlah diterima, dan terutama sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain.

Konsep diri positif akan menjadi kekuatan untuk menyusun bangunan self confidence (percaya diri) yang dapat menggerakan pikiran dalam membentuk sebuah keyakinan dan menghapus keragu-raguan, karena dengan kekuatan itu seseorang akan berusaha mencari jalan, sarana serta cara meraih kesuksesan yang dicita-citakannya. Sebaliknya konsep diri negatif akan berdampak pada kekurang percayaan diri, sebab bagi mereka yang memiliki konsep diri negatif akan merasa bahwa dirinya tidak mampu melakukan apa yang orang lain dapat lakukan, ia akan cenderung menghindar dari persoalan, ia takut orang lain akan mengejeknya atau menyalahkannya, sehingga ia akan menjadi serba takut.

Jadi, konsep diri positif yang dimiliki seseorang merupakan kekuatan yang akan menjadikan ia seperti yang dipikirkannya. Sebaliknya keragu-raguan, rendah diri, kesalahan dalam membuat citra-diri (self image) serta kesalahan dalam perasaan diri atau harga diri (self esteem) merupakan kekuatan negatif yang seringkali hadir menghalangi langkah kesuksesan, sebab keraguan pada diri sendiri secara tidak proporsional merupakan buah dari cara merasa dan cara memahami diri yang salah. Kesalahan ini -cara berpikir dan cara merasa- ujung-ujungnya akan menarik ”dalih” yang dapat menyokong dan membangun tidak percaya pada diri sendiri secara berlebihan.

Kesalahan cara berpikir (negatif) akan memandu ”otak Anda yang hebat” memproduksi sesuatu yang tidak berarti, tidak menghasilkan sumbangan dan tidak memberikan apa pun yang bermanfaat. Ia hanya akan mengkubur semua nilai, keyakinan dan pengetahuan serta cita-cita yang Anda miliki. Oleh sebab itu ketahuilah ”sesungguhnya cara berpikir jauh lebih penting dari banyak intelegensi yang Anda miliki”, sebab cara berpikir yang Anda gunakan akan memandu intelegensi (kecerdasan) Anda, baik kecerdasan intelektual, dan kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual.

Dengan demikian yang paling penting adalah ”bukan seberapa banyak intelegensi yang Anda miliki, tetapi bagaimana caranya mengoptimalkan potensi intelegensi yang benar-benar Anda miliki”. Untuk mengoptimalkan potensi intelegensi yang Anda miliki akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara Anda berpikir, karena cara berpikir yang Anda gunakan akan memandu intelegensi yang Anda miliki. Karena itu, setiap pemikiran negatif jika dipupuk dengan berulang-ulang akan berkembang menjadi monster pikiran yang riil yang dapat menghancurkan percaya diri dan melicinkan jalan pada kegagalan, sebab keraguan, ketidakpercayaan, keinginan bawah sadar untuk gagal, perasaan tidak benar-benar ingin berhasil akan berpengaruh terhadap sebagian besar kegagalan Anda. Sebaliknya, kepercayaan atau keyakinan dan cara berpikir positif akan menjadi motor dan kekuatan penggerak yang memicu keberhasilan dan menjadi salah satu faktor determinan meraih kesuksesan. Artinya, dengan keyakinan dan cara berpikir positif serta percaya pada diri sendiri maka segala hal yang baik pasti mulai terjadi.

Apakah yang akan menentukan seberapa besar kesuksesan Anda? Lingkungan tempat Anda dilahirkan? Keberuntungan yang menjadi bagian dari kehidupan? Kesempatan dan kekayaan yang dimiliki? Mungkin semua itu ada kaitannya. Meskipun demikian, yang lebih penting adalah nilai-nilai, keyakinan, dan pikiran Anda sendiri, sebab semua itu yang akan menyusun realitas diri Anda dan penyebab langsung tentang apa yang Anda rasakan, Anda pikirkan, dan Anda katakan serta Anda lakukan, semua itu akan menjadi kekuatan untuk berani jujur pada diri sendiri.


BERANI JUJUR?

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin
akan menipumu.
Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap
saat.
~Mother Theresa.

Bila kita bisa dan berani jujur, maka kita bisa
berdialog dengan diri kita sendiri. Dimana, hanya
dengan cara ini, kita bisa mengenal, memahami dan
mengakrabinya. Saya rasa semua orang bisa jujur;
setidak-tidaknya kepada dirinya sendiri. Namun saya
tidak yakin kalau semua orang berani jujur, kendati
kepada dirinya sendiri.

Untuk jujur ternyata memang menuntut derajat
keberanian tertentu. Disini, kita dituntut berani
mengakui dan menerima segala kekurangan, kelemahan dan
kebusukan yang melekat pada si diri; berani menerima
fakta kalau ia sebetulnya pemalas, mau enaknya saja,
pemboros, penakut, pembohong, suka pura-pura, munafik,
sembrono, gegabah, tak punya belas-kasihan, tak punya
kepedulian sosial, mau menang sendiri, sok tahu, sok
pinter, penuh kepalsuan, curang, serakah, pelit,
pencemburu dan suka iri, pembenci dan pendendam, tak
punya ketulusan, hanya mau menerima dan enggan
memberi, korup, hanya mementingkan diri dan keluarga
sendiri, punya nafsu-keinginan yang sangat besar,
ambisius, licik, picik, berwawasan sempit, tak punya
sopan-santun, berani bertindak tapi takut
bertanggungjawab, plintat-plintut, suka beralasan,
suka mengkambing-hitamkan, suka menutup-nutupi
kesalahan dan kekuarangan, sering melancarkan fitnah,
suka mengintimidasi, sombong, tak tahu diri, dan
banyak lagi untuk disebutkan.

Berani mengakui dan menerima semua fakta itu, bukan
saja menyebabkan Anda sadar-diri, akan tetapi membuka
pintu seluas-luasnya untuk setiap saat menjadi lebih
baik dari sebelumnya, setiap saat menjadi manusia yang
lebih luhur dan lebih mulia dari sebelumnya. Hanya
dengan begitu, walaupun secara kasat-indria Anda tidak
melakukan apapun bagi dunia, bagi orang-orang, bagi
alam sekitar, Anda sebetulnya sudah berbuat banyak,
Anda sudah menebar aura bajik yang kekuatannya
melampaui ruang dan waktu. Inilah kekuatan dari
kejujuran itu.

Denpasar, 12 Oktober 2005.
_______________________________
Baca juga: “Menelanjangi-diri”, “Reformasi internal”,
“Disiplin-pribadi, Kebebasan, Kedamaian dan
Kebahagiaan”, dan yang lainnya.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tahukah Anda dimana ilusi dunia menyembunyikan kesenangan dan kebahagiaan hidup?
Di balik kebajikan dan kearifan!
Dan tahukah Anda dimana ilusi dunia menyamarkan penderitaan dan kesengsaraan
hidup?
Di balik kebatilan dan kebodohan!
~anonymous 240606-09.

Currently have 0 comments: