Marley And Me

Marley And Me Marley And Me

Crank:High Voltage

Crank:High Voltage Crank:High Voltage

WATCHMEN - The Movie

WATCHMEN - The Movie WATCHMEN - The Movie

Bedtime Stories

Bedtime Stories Bedtime Stories
Latest News

BERANI JUJUR

Posted by KangBina on Sunday, June 7, 2009 , under | comments (0)



Lalu Bima menceritakan semua kejadian sebenarnya. Bahwa dia tidak berkata Jujur pada gurunya dengan mengatakan bahwa dia sakit, padahal dia terlambat bangun dan bolos main PS. Mendengar cerita panjang lebar Bima , Pada Awalnya Mama sedikit kaget,tapi ia mencoba lebih bijaksana dan bertanya kepada Bima
“ Kenapa kamu tak Jujur nak ?”
“ Habis , aku takut ma, lagian aku udah banyak terlambat, aku cuma ga mau klo aku nyusahin mamanya nanti klo aku banyak terlambatnya”
“ Aduh nak , kamu tuh masih muda , harus berani berkata Jujur. Masih banyak waktu kamu untuk memperbaiki diri . Lagian kalau kamu gak jujur akan merugikan diri kamu sendiri”
“ Iya, ma aku salah”
“ Mama tau, kamu gak mau menyusahkan mama , tapi bukan begitu caranya nak , itu cara yang salah, tapi gak papa. Lain kali kamu gak boleh mengulangnya lagi ya”
“ Iya Ma, Lain kali aku akan jujur” Ucapnya Sambil memeluk mamanya
“ Nah gitu dong, besok katakana yang sejujurnya sama gurumu”
“Ahhh???” Langsung Bima Kaget , agak sedikit pusing.
“ Tapi Ma, takut di hukum”
“Lebih baik kamu berkata Jujur , daripada kamu jadi was-was dan menanggung dosa karna membohongi orang tua , gimana Hayo ?”
“ Eh, iya deh , aku beraniin diri deh besok” Ucap bima masih ragu-ragu.
“ Nah, beres kan ? Sekarang Kamu tidur ya, istirahat dulu, besok pagi sekolah . Cukup kan satu hari aja istirahat, Cuma kejedut doing kok , heh” Kini Mama tersenyum , sambil mencium kening Anaknya
Mbak Marnah dan Bu Ratih yang berdiri melihat kemesraan Antara anak dan ibunya pun jadi kagum dengan Bu Bima . Setelah itu mereka pergi meninggalkan Bima, dan menutup kunci kamarnya. Bima bisa berlega sedikit, Lalu ia menutup matanya, menuju alam khayalan yang Luas.



Ini penyakit Psikosomatis.
Pastinya ada arus bawah yang bergejolak, tapi tak sempat timbul ke permukaan dalam bentuk komunikasi.
Timbulnya dalam bentuk gejala penyakit gak jelas tadi.

Berani Jujur??
post info
By elanurdiennie
Categories: Uncategorized

Seringkali apa yang kita tunjukkan pada lingkungan sekitar kita adalah sesuatu yang bukan sebenarnya terjadi pada diri kita. kita terus bersembunyi dibalik topeng, dan akhirnya kita menemukan rasa aman itu. rasa aman untuk diterima, disayangi, dihargai, dan dipuji.
Semakin lama topeng itu akhirnya semakin menyatu dalam diri kita. Tapi, apakah itu sebenarnya yang kita mau? apakah kita benar2 nyaman dengan topeng tersebut?
Jawabnya tidak. Karena ada sesuatu dari diri kita yang ternyata secara perlahan tapi pasti akan mati, yaitu hati. Yups, karena topeng, bukanlah diri kita sebenarnya, semakin kita sering menggunakan topeng untuk kepuasan yang ingin kita dapat, berarti kita secara tidak sadar telah membuang hati kita, sehingga apa yang kita dapat, apa yang kita hasilkan,tidak akan pernah membuat kita merasakan kepuasan yang sesungguhnya, karena pada kenyataannya kita hanya akan tersenyum, tertawa, dan bahagia hanya berdasarkan ekspresi topeng yang kita tunjukkan, kebahagiaan itu tidak muncul dari hati. Oleh karena itu, walaupun orang lain menganggap kita bahagia, punya segalanya, tapi kita tak bisa berbohong bahwa sebenarnya kita hidup dalam kekosongan.

Jadi apakah kita akan terus hidup dengan memakai topeng tersebut??
Jawabannya terserah kita

Tapi secara pribadi, aku ingin melepas topeng ini sesegera mungkin, dan mengembalikan hatiku ke posisi semula. aku ingin semua yang kulakukan bisa kurasakan dengan hatiku. aku merindukan saat itu, dimana hatiku dapat tergetar ketika aku mendengar/ melihat orang yang sedang dalam kesusahan, aku ingin merasakan lagi hatiku yang dulu, yang dapat bergetar ketika kubaca ayat2NYA, karena hanya orang2 yang seperti itulah yang dikatakan sebagai mu’min sejati, yang dapat merasakan manisnya iman. untuk itu, aku harus jujur, jujur pada orang lain, jujur pada diriku sendiri, dan jujur pada Sang Maha Pengampun tentang semua kekuranganku, semua kesalahan dan dosaku yang selama ini kututupi dengan topeng.

Terimakasih sahabat,karena sekali lagi, dirimu telah membuat perubahan dalam hidupku. menyadarkanku akan dosa2 yang telah kuperbuat, membuat aku berani untuk jujur padamu, membongkar semua topeng2 yang kupakai selama ini.
walaupun sekarang aku belum bisa merasakan hatiku lagi,tapi aku yakin, dengan adanya dirimu yang akan mengingatkanku, aku dapat kembali, kembali ke diriku yang dulu.
“Yaa Muqollibal qulub, tsabbit qolbii alaa diinika”

CITIZEN JOURNALISM: SIAPA SAJA, MENULIS APA SAJA
Jujur
Samuel Mulia - Penulis mode dan gaya hidup

Belum lama ini saya ditanya dalam sebuah acara talk show di radio, apakah susah menjadi jujur? Dan berisikokah itu?

Saya jawab, ”Waduh… saya ini jujur, makanya banyak orang enggak suka sama saya.”

Saya katakan lagi dengan jujur, saya bisa tidur nyenyak. Yaa... tetapi yang mendengar kejujuranmu yang enggak bisa tidur. Nurani saya nyeletuk seperti itu. Maka, sekarang saya menyarankan orang untuk belajar melatih diri menjadi jujur supaya tak tersakiti dan bisa tidur nyenyak seperti saya.

Risiko? Saya kok pikir semua ada risikonya selama seseorang hidup. Jadi lelaki berisiko, jadi koruptor berisiko, tidak jujur pun punya risiko. Jadi guru berisiko, apalagi jadi muridnya. Jadi presiden sami mawon. Tetapi, berani mengambil risiko, itu bisa seperti pahlawan. Itu yang saya ingin ceritakan.

The Best OEO of The Year

Saya membaca artikel di majalah Fortune edisi September 2008, ”Prada Goes Shopping-For Money”. Untuk dapat bersaing di dunia mode, rumah mode itu memerlukan dana segar, selain itu untuk membayar utang.

Awal tragedi itu gara-gara rumah mode ini memiliki saham di tiga rumah mode lain dan satu rumah sepatu. Fortune menjelaskan demikian. Prada, however lacked the capital and managerialstrength to cultivate those acquisitions. And that’s when the trouble started. ”Prada has too much debt,” kata Frederico Lalatta dari Boston Consulting Group. ”If they can’t go public, they will be walking a fine line,” jelas dia lagi.

Dalam majalah itu dibeberkan juga, Pak Bertelli, suami Ibu Miuccia Prada, seorang yang temperamental dan yang telah membuat banyak eksekutifnya tak bertahan lama bekerja bersama dia. But his management style—marked by temper tantrum and a tendency to micromanage—has led to high turnover among Prada’s executives. Bertelli flew into a rage because the sheetrock was uneven. To express his displeasure he smashed a mirror that was hanging on the wall. ”You need a certain personality to work for the company,” kata Brian Hence yang bisa bertahan sepuluh tahun bekerja untuk dia sebelum menjadi presiden rumah sepatu kondang, Jimmy Choo, Amerika.

Awalnya saya berpikir, apakah citra rumah mode ini tak akan babak belur setelah liputan itu dibeberkan ke seluruh dunia? Maklum, buat masyarakat mode citra itu pentingnya luar ”binasa”. Bahkan menjadi munafik sekalipun tampaknya malah sebuah kebenaran. Dan kalau mengingat pelajaran nonformal di kafe dari teman-teman saya yang bekerja sebagai humas, maka liputan mengenai kejujuran macam begini adalah tindakan yang mencoreng muka.

Namun, saya merasa kejujurandalam liputan itu memberi saya sesuatu, terutama sekarang saya mendadak harus mengurus perusahaan peninggalan keluarga. Saya belajar saya tak boleh temperamental lagi, harus berhati-hati membelanjakan uang perusahaan dalam mengembangkan bisnis, dan sejuta masukan yang sangat berarti.

Buat saya kejujuran macam ini bak pahlawan karena umumnya yang saya baca di majalah semacam Fortune adalah kehebatan seorang pemimpin, tak pernah membeberkan kelemahannya untuk menjadi pelajaran.

Makanya saya suka bingung. Di sini, kejujuran diusahakan sebisa mungkin ditutup, di luar dibuka habis-habisan. Terus saya cuma bertanya buat apa yang di sini ditutup, lha wong saya juga berlangganan majalah luar. Dari sanalah saya mengetahui Carla Bruni itu siapa, Obama itu latar belakangnya macam apa, dan pacar Marc Jacobs itu jenis kelaminnya seperti apa.

Jadi, kejujuran yang tampaknya negatif pun ternyata bisa memberi sumbangan positif buat orang lain, meski harus diakui yang negatif memang lebih enak dijadikan bahan gosip. Itu mungkin yang membuat orang tak berani jujur, meski tahu itu bisa membantu orang lain.

Mungkin citra itu jauh lebih penting daripada membantu memelekkan orang. Maka, mungkin kalau ada pemilihan The CEO atau COO atau OEO (artinya Oh… Executive Officer) of the Year, maka penghargaan itu sebaiknyadiberikan kepada mereka yang berani membeberkan kejujuran dalam menjalankan usaha yang membuat orang lain naik kelas.

Salon 24 jam

Belum lama ini, saya menyaksikan tayangan film dengan Richard Gere sebagai bintang utamanya. Saya lupa lagi nama judulnya. Film itu tentang pemilihan Presiden Amerika. Saya suka adegan ketika seorang calon presiden sedang ”dibenahi” oleh seorang Image Consultant. Ia menata rambut si calon presiden, dirias wajahnya, mengenakan setelan apik, kacamata dilepas digantikan dengan lensa kontak, diatur mesti berbicara ini dan bukan itu.

Akan tetapi, Mas Richard malah menyarankan sang calon presiden untuk menjadi apa adanya, menjadi jujur saja. Kata Mas Richard, ”Kalaupun mereka (masyarakat) menganggap kejujuranmu itu bodoh, itu tak masalah.”

Singkat cerita ia menang karena ia jujur. Saya tak tahu apakah pemilihan presiden di mana pun bisa menggunakan saran dari Mas Richard. Apakah itu hanya terjadi di layar lebar? Di Hollywood?

Kalau ternyata saran itu bisa digunakan, saya bertanya siapa kira-kira calon presiden yang akan menggunakan. Yang berani untuk tidak menjanjikan bulan madu, tetapi sesuatu yang nyata. Saya sendiri juga sering seperti image consultant untuk diri sendiri. Memoles diri, sampai kadang saya tak tahu saya ini mau apa dan saya ini siapa.

Saya senang membuat citra karena tampak luar yang sesaat itu penting. Bicara diatur, senyum diatur, kalimat yang saya gunakan mengambang meski masih ada nilai kebenarannya. Pokoknya saya bisa cerdik seperti ular dan terlihat tulus seperti merpati. Memesona itu penting, tetapi saya harus juga berpikir, kalau saya terus begitu lama-lama lupa saya ini bukan sedang membuka rumah kecantikan dua puluh empat jam.

Belajar…

1. Menjadi jujur itu baik. Hal yang mudah dinyatakan, tetapi susah dijalankan. Apalagi kalau ada yang menyindir Anda dengan perkataan You know too much! Menjadi jujur yang penting adalah untuk diri sendiri. Kalau ternyata bisa membantu orang lain, itu benar mulia.

2. Berlatih menjadi jujur sama seperti melatih menjadi pembohong. Jalan sedikit berputar itu katanya tidak apa-apa, asal tujuannya tetap pergi ke Bogor. Tetapi, yang berputar sehingga mendarat di Bandung, itu kekeliruan.

3. Menanggung risiko dari sebuah kejujuran. Tetapi kalau tidak kuat, juga tidak apa-apa. Manusia diciptakan dengan sebuah perbedaan kekuatan mental dan kekuatan menanggung beban. Lebih baik Anda jujur karena tidak kuat menanggung risiko, meski kalau takut terus bisa juga berakhir jadi pembohong. Itu kemudian yang membuat Anda tak bisa tidur nyenyak karena harus memikirkan ucapan apalagi yang harus dikeluarkan karena awalnya sudah berbohong. Jadi, Anda terjerat dalam lingkaran setan. Saya pernah dalam situasi itu, sampai lama-lama saya jadi setannya. Itu susah diberantas. Setan kok mau memberantas setan.

4. Untuk tidak membohongi diri sendiri. Karena tidak jujur hanya memberi kesenangan sesaat. Saat Anda menyendiri dan kalau kebetulan punya nurani bawel dan senang berkicau seperti punya saya, waduh… Anda bakal kewalahan. Dan saya ingatkan jangan pernah mencoba membebalkan nurani Anda. Beranikan sekali waktu menjadi sendiri dan mendengar nurani yang bawel. Jangan menghindar, tak ada gunanya, karena setelah beberapa saat menghindar nurani Anda akan berbunyi lagi. Ia tak bisa dihentikan karena ia adalah Anda. Ia bukan jam weker yang bisa dibungkam karena berisik.

5. Untuk tidak menyakiti orang dengan kejujuran Anda. Saya sedang dalam taraf belajar karena kejujuran saya sering membuat orang tersakiti. Menjadi jujur sekaligus bijaksana memang perlu jam terbang. Ingat, latar belakang Anda tumbuh dan berkembang dalam sebuah lingkungan tidaklah sama dengan semua orang. Itu yang menentukan Anda berani jujur lantang, jujur bijaksana, tidak berani atau belum berani jujur, atau menjadi pembohong.

Kejujuran pada diri sendiri sangat erat kaitannya dengan penerimaan diri, maka ketika seseorang tidak berani jujur pada diri sendiri sebenarnya dia tidak siap dan tidak berani menerima keadaan dirinya. Hal demikian dipengaruhi oleh nilai-nilai, keyakinan dan cara berpikir seseorang, karena nilai-nilai, keyakinan dan cara berpikir akan menciptakan apa yang kita rasakan, kita katakan dan kita lakukan, juga akan menentukan hasil yang akan diperoleh, sebab seseorang akan menjadi apa yang dirasakan, diyakini dan dipikirkanya. Kebanyakan orang atau mungkin setiap orang, akan menjalani kehidupannya sesuai dengan model mental dirinya, yaitu sesuai dengan nilai-nilai, keyakinan dan pikirannya dan mengabaikan sesuatu yang berbeda atau berlawanan dengan model mental dirinya. Sayangnya banyak nilai-nilai, perasaan, keyakinan dan pikiran itu terkubur begitu dalam di alam bawah sadar kita, bahkan kita sendiri tidak menyadari bahwa kita memegangnya erat-erat.

Nilai-nilai, keyakinan, dan pikiran ini penting, karena semuanya akan menjadikan siapa diri Anda sebenarnya, menjadikan seperti apa model mental Anda dan akan mendefiniskan siapakah diri Anda sebenarnya. Tiga hal itu akan menjadi cermin yang Anda gunakan untuk memandang dunia, warna apa yang akan Anda lihat, suara apa yang akan Anda dengar, dan akan mengkerangka bagaimana Anda memikirkannya serta kesimpulan seperti apa yang akan Anda buat.

Persolaannya adalah “Telah jujurkah kita pada diri sendiri ? Untuk jujur pada diri sendiri, sangat dibutuhkan keberanian yang besar, melebihi besarnya keberanian untuk menghadapi tantangan lain, selain untuk jujur itu sendiri. Oleh sebab itu, Anda harus berani menjawab ”telah jujurkah saya pada diri sendiri ?”. Kemudian jika memang terdapat beberapa kelemahan dan kekuarangan pada diri, mampukah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi berbagai persoalan, menyongsong senja menanti pagi yang silih berganti ?

Kejujuran pada diri sendiri, akan menjadi energi untuk memperbaiki berbagai kekurangan itu, juga menjadi kekuatan untuk menyatakan bahwa “dalih”, hanyalah alasan untuk menutupi kelemahan atau membungkus kekurangseriusan dalam meraih sesuatu yang dicita-citakan atau meraih kesuksesan yang diidam-idamkan. Kejujuran pada diri sendiri pada perjalanannya akan menjadi modal terbangunnya “pemahaman diri” dan “perasaan diri” secara positif. Jadi, kejujuran pada diri sendiri merupakan modal yang sangat diperlukan seseorang dalam meraih kesuksesan, karena dengan itu seseorang akan memiliki “pemahaman diri” dan “perasaan diri” secara positif.

Pemahaman diri dan perasaan diri merupakan dua pilar yang membangun konsep diri seseorang yang ditegakkan oleh komponen kognitif dan komponen afektif. Dalam psikologi sosial, komponen kognitif disebut citra-diri (self image) dan komponen afektif disebut harga-diri (self esteem). Citra diri adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri: berkompeten atau tak berdaya, pemalu atau ramah, lembut atau kasar, pembelajar cepat atau lambat, dapat diandalkan atau serampangan. Sedangkan harga diri merupakan refleksi perasaan diri, penghormatan diri dan nilai diri, nilai yang kita tempatkan pada diri kita sendiri sebagai orang dan harapan yang kita miliki dari dan untuk diri kita sendiri.

Orang-orang dengan harga diri yang tinggi biasanya merasa nyaman dan percaya diri. Akan tetapi berkaitan dengan harga diri atau citra-diri (self image) terdapat sesuatu yang mesti disadari, karena jika seseorang tidak kontrol maka dia akan memasang harga atau citra dirinya terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan keadaan dirinya. Dengan begitu ia akan menjadi orang yang over confident (terlalu percaya diri) hingga dia akan menjadi sombong (takabur).

Sedangkan orang-orang yang harga dirinya rendah akan merasa tidak bernilai dan tidak nyaman, mereka kurang percaya diri untuk mengatakan apa yang ada dalam benaknya. Orang yang memasang harga-diri (self esteem) terlalu rendah juga akan bahaya, sebab orang yang demikian akan menjadi serba ragu dan minder. Dengan begitu keberanian dan kreativitasnya akan hilang, karena tertutup olah rasa takut dan rasa malu yang berlebihan. Berdasarkan dua hal di atas, coba Anda nilai posisi Anda sekarang, bagaimana pandangan yang Anda pegang tentang diri Anda, apakah positif, negatif atau biasa-biasa saja ? Pandangan diri Anda pada akhirnya akan memandu segala sesuatu yang Anda pikirkan, Anda rasakan dan Anda katakan juga Anda lakukan. Oleh sebab itu, konsep diri (self image dan self esteem) akan memainkan peran sentral dalam kesuksesan seseorang.

Pertanyaannya, bagaimana menurut Anda mengenai diri Anda sendiri ? Apakah Anda menyukai diri Anda sendiri ? Apakah Anda berpikir sebagai orang yang berharga dan penting ? Apakah Anda percaya bahwa Anda patut mendapatkan yang terbaik ? Seberapa nyamankah Anda dengan diri Anda yang sebenarnya? Jika kini Anda merasa rendah diri, pemalu, kurang percaya diri maka segeralah naikan harga diri Anda, akan tetapi jika Anda terlampau percaya diri, itu juga sebuah pertanda ada sesuatu yang kurang tepat dalam memahami diri.

Untuk itu, terdapat beberapa hal yang Anda dapat lakukan untuk menaikkan harga diri Anda, yaitu dengan cara berikut:

1. Daripada menyalahkan orang lain, terimalah tanggung jawab untuk bergembira, mencapai tujuan, menikmati kehidupan Anda;

2. Daripada memusatkan pada kesalahan Anda, lebih baik melakukan sesuatu agar perasaan dan pikiran Anda lebih positif, sehingga dapat membangun kepercayaan diri Anda dan yang membuat Anda merasa lebih baik, kompeten dan berkecukupan;

3. Daripada terus berhubungan dengan para pecundang, bertemanlah dengan orang-orang yang punya harga diri lebih positif dan yang membuat Anda merasa nyaman dengan diri Anda sendiri.

4. Daripada duduk di rumah, ikutilah aktivitas yang Anda senangi;

5. Daripada bersikap kritis kepada diri Anda sendiri dan orang lain, carilah sesuatu yang Anda sukai pada diri Anda sendiri dan pada setiap orang yang Anda kenal dan temui;

6. Daripada mencoba mengubah orang lain, fokuskan untuk menjadi orang yang Anda inginkan;

7. Daripada menjalani hidup di masa depan atau masa lalu, hiduplah di masa sekarang;

8. Daripada mengatakan “saya tidak dapat melakukan ini” atau “saya tidak tahu apapun tentang hal ini”, bacalah, hadiri seminar, belajarlah dari orang lain, lakukan apa pun yang Anda bisa untuk mengembangkan bakat dan keterampilan Anda;

9. Daripada memusatkan pada kegagalan Anda, akui dan rayakan prestasi dan kesuksesan Anda;

10. Daripada terlalu banyak makan dan minum, dan kurang latihan, jagalah diri sendiri, Anda patut mendapatkannya.

11. Daripada mengatakan ”Oh, tidak ada apa-apanya, sungguh”, terimalah pujian orang lain, katakan ”terima kasih” dan nikmati perhargaan itu tanpa rasa malu.

Jadi, konsep diri (citra diri dan harga diri) merupakan faktor yang sangat menentukan perilaku seseorang, karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Jelaslah kini, bila seorang mahasiswa (Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, misalnya) merasa dirinya sebagai orang yang mampu menjadi mubaligh atau menjadi seorang penyiaran Islam, maka ia akan akan berusaha menjadikan dirinya sebagai mubaligh atau penyiaran Islam, ia akan berusaha menghadiri kuliah dengan teratur, mempelajari materi perkuliahan dengan rajin dan sungguh-sungguh, sehingga ia akan memperoleh apa yang diharapkannya itu.

Sebaliknya, jika ia merasa rendah diri dan memandang bahwa dirinya tidak akan mampu menjadi seorang mubaligh (penceramah) atau penyiar ”hebat” maka ia akan mengalami kesulitan meraih harapannya untuk menjadi seorang mubaligh atau penyiar. Kemudian ia akan malas masuk kuliah, tidak rajin mempelajari materi kuliah dan tidak aktif dalam mengikuti pelatihan-pelatihan serta kegiatan yang mendukung untuk menjadikan dirinya sebagai mubaligh (penceramah) atau penyiar ”hebat”. Sebab ia hanya akan mengangap bahwa dirinya tidak mungkin bisa menjadi seorang mubaligh atau menjadi atau penyiar Islam yang ”hebat”.

Dengan begitu, konsep diri bukan hanya sekedar gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian Anda tentang diri Anda. Konsep diri meliputi apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda rasakan tentang diri Anda. Oleh sebab itu, Anita Taylor et al (1977) mendefinisikan konsep diri sebagai “all you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you hold about yourself”. Jadi untuk sukses menjadi seorang mubaligh (penceramah) atau penyiar Islam akan banyak bergantung pada apa yang Anda pikirkan dan apa yang Anda rasakan mengenai diri Anda, artinya kesuksesan Anda sangat besar dipengaruhi oleh bagaimana konsep diri Anda, positif atau negatif.

Untuk menilai diri Anda, apakah positif atau negatif dalam kerangkan konsep diri, menurut William D. Brooks dan Philip Emmert (1976) memiliki tanda-tanda orang yang memiliki konsep diri yang negatif, sebagai berikut:

1. Ia peka pada kritik, orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah marah atau naik pitam;

2. Respnsif sekali terhadap pujian, walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian;

3. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain dan ia merasa tidak diperhatikan, karenanya bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban pershabatan; dan

4. Bersikap pesimis terhadap kompetisi, seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi.

Sebaliknya, orang-orang yang memiliki konsep diri positif secara umum akan ditandai dengan lima hal berikut:

1. Ia yakin akan kemampuannya menagatasi masalah;

2. Ia merasa setara dengan orang lain;

3. Ia menerima pujian tanpa rasa malu;

4. Ia menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat; dan

5. Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.

Dalam kenyataannya, memang tidak ada orang yang betul-betul sepenuhnya berkonsep diri negatif atau positif, tetapi untuk meraih kesuksesan sebagaimana diharapkan oleh Anda maka sedapat mungkin Anda memperoleh sebanyak mungkin tanda-tanda konsep diri positif. Bahkan D.E. Hamachek (1976) menyebutkan sebelas karakteristik orang yang mempunyai konsep diri positif:

1. Ia meyakini betul-betul niali-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempetehankannya, walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Tetapi dia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prisip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan ia salah.

2. Ia bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan, atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.

3. Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang telah terjadi pada waktu yang lalu, dan apa yang sedang terjadi waktu sekarang.

4. Ia memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.

5. Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusiatidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga, atau sikap orang lain terhadapnya.

6. Ia sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai shabatnya.

7. Ia dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, dan menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.

8. Ia cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.

9. Ia sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta, dari sedih sampai bahagia, dari kekecewaan yang mendalam sampai keputusan yang mendalam pula.

10. Ia mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan, atau sekedar mengisi waktu.

11. Ia peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang tlah diterima, dan terutama sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain.

Konsep diri positif akan menjadi kekuatan untuk menyusun bangunan self confidence (percaya diri) yang dapat menggerakan pikiran dalam membentuk sebuah keyakinan dan menghapus keragu-raguan, karena dengan kekuatan itu seseorang akan berusaha mencari jalan, sarana serta cara meraih kesuksesan yang dicita-citakannya. Sebaliknya konsep diri negatif akan berdampak pada kekurang percayaan diri, sebab bagi mereka yang memiliki konsep diri negatif akan merasa bahwa dirinya tidak mampu melakukan apa yang orang lain dapat lakukan, ia akan cenderung menghindar dari persoalan, ia takut orang lain akan mengejeknya atau menyalahkannya, sehingga ia akan menjadi serba takut.

Jadi, konsep diri positif yang dimiliki seseorang merupakan kekuatan yang akan menjadikan ia seperti yang dipikirkannya. Sebaliknya keragu-raguan, rendah diri, kesalahan dalam membuat citra-diri (self image) serta kesalahan dalam perasaan diri atau harga diri (self esteem) merupakan kekuatan negatif yang seringkali hadir menghalangi langkah kesuksesan, sebab keraguan pada diri sendiri secara tidak proporsional merupakan buah dari cara merasa dan cara memahami diri yang salah. Kesalahan ini -cara berpikir dan cara merasa- ujung-ujungnya akan menarik ”dalih” yang dapat menyokong dan membangun tidak percaya pada diri sendiri secara berlebihan.

Kesalahan cara berpikir (negatif) akan memandu ”otak Anda yang hebat” memproduksi sesuatu yang tidak berarti, tidak menghasilkan sumbangan dan tidak memberikan apa pun yang bermanfaat. Ia hanya akan mengkubur semua nilai, keyakinan dan pengetahuan serta cita-cita yang Anda miliki. Oleh sebab itu ketahuilah ”sesungguhnya cara berpikir jauh lebih penting dari banyak intelegensi yang Anda miliki”, sebab cara berpikir yang Anda gunakan akan memandu intelegensi (kecerdasan) Anda, baik kecerdasan intelektual, dan kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual.

Dengan demikian yang paling penting adalah ”bukan seberapa banyak intelegensi yang Anda miliki, tetapi bagaimana caranya mengoptimalkan potensi intelegensi yang benar-benar Anda miliki”. Untuk mengoptimalkan potensi intelegensi yang Anda miliki akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara Anda berpikir, karena cara berpikir yang Anda gunakan akan memandu intelegensi yang Anda miliki. Karena itu, setiap pemikiran negatif jika dipupuk dengan berulang-ulang akan berkembang menjadi monster pikiran yang riil yang dapat menghancurkan percaya diri dan melicinkan jalan pada kegagalan, sebab keraguan, ketidakpercayaan, keinginan bawah sadar untuk gagal, perasaan tidak benar-benar ingin berhasil akan berpengaruh terhadap sebagian besar kegagalan Anda. Sebaliknya, kepercayaan atau keyakinan dan cara berpikir positif akan menjadi motor dan kekuatan penggerak yang memicu keberhasilan dan menjadi salah satu faktor determinan meraih kesuksesan. Artinya, dengan keyakinan dan cara berpikir positif serta percaya pada diri sendiri maka segala hal yang baik pasti mulai terjadi.

Apakah yang akan menentukan seberapa besar kesuksesan Anda? Lingkungan tempat Anda dilahirkan? Keberuntungan yang menjadi bagian dari kehidupan? Kesempatan dan kekayaan yang dimiliki? Mungkin semua itu ada kaitannya. Meskipun demikian, yang lebih penting adalah nilai-nilai, keyakinan, dan pikiran Anda sendiri, sebab semua itu yang akan menyusun realitas diri Anda dan penyebab langsung tentang apa yang Anda rasakan, Anda pikirkan, dan Anda katakan serta Anda lakukan, semua itu akan menjadi kekuatan untuk berani jujur pada diri sendiri.


BERANI JUJUR?

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin
akan menipumu.
Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap
saat.
~Mother Theresa.

Bila kita bisa dan berani jujur, maka kita bisa
berdialog dengan diri kita sendiri. Dimana, hanya
dengan cara ini, kita bisa mengenal, memahami dan
mengakrabinya. Saya rasa semua orang bisa jujur;
setidak-tidaknya kepada dirinya sendiri. Namun saya
tidak yakin kalau semua orang berani jujur, kendati
kepada dirinya sendiri.

Untuk jujur ternyata memang menuntut derajat
keberanian tertentu. Disini, kita dituntut berani
mengakui dan menerima segala kekurangan, kelemahan dan
kebusukan yang melekat pada si diri; berani menerima
fakta kalau ia sebetulnya pemalas, mau enaknya saja,
pemboros, penakut, pembohong, suka pura-pura, munafik,
sembrono, gegabah, tak punya belas-kasihan, tak punya
kepedulian sosial, mau menang sendiri, sok tahu, sok
pinter, penuh kepalsuan, curang, serakah, pelit,
pencemburu dan suka iri, pembenci dan pendendam, tak
punya ketulusan, hanya mau menerima dan enggan
memberi, korup, hanya mementingkan diri dan keluarga
sendiri, punya nafsu-keinginan yang sangat besar,
ambisius, licik, picik, berwawasan sempit, tak punya
sopan-santun, berani bertindak tapi takut
bertanggungjawab, plintat-plintut, suka beralasan,
suka mengkambing-hitamkan, suka menutup-nutupi
kesalahan dan kekuarangan, sering melancarkan fitnah,
suka mengintimidasi, sombong, tak tahu diri, dan
banyak lagi untuk disebutkan.

Berani mengakui dan menerima semua fakta itu, bukan
saja menyebabkan Anda sadar-diri, akan tetapi membuka
pintu seluas-luasnya untuk setiap saat menjadi lebih
baik dari sebelumnya, setiap saat menjadi manusia yang
lebih luhur dan lebih mulia dari sebelumnya. Hanya
dengan begitu, walaupun secara kasat-indria Anda tidak
melakukan apapun bagi dunia, bagi orang-orang, bagi
alam sekitar, Anda sebetulnya sudah berbuat banyak,
Anda sudah menebar aura bajik yang kekuatannya
melampaui ruang dan waktu. Inilah kekuatan dari
kejujuran itu.

Denpasar, 12 Oktober 2005.
_______________________________
Baca juga: “Menelanjangi-diri”, “Reformasi internal”,
“Disiplin-pribadi, Kebebasan, Kedamaian dan
Kebahagiaan”, dan yang lainnya.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tahukah Anda dimana ilusi dunia menyembunyikan kesenangan dan kebahagiaan hidup?
Di balik kebajikan dan kearifan!
Dan tahukah Anda dimana ilusi dunia menyamarkan penderitaan dan kesengsaraan
hidup?
Di balik kebatilan dan kebodohan!
~anonymous 240606-09.

Intuisi Bisnis

Posted by KangBina on Tuesday, February 5, 2008 , under | comments (0)



Tidak semua orang memiliki intuisi bisnis yang sama. Namun intuisi itu bisa dilatih. Carol Kinsey Goman melalui bukunya Creativity in Business juga menyampaikan cara bagaimana mengembangkan intuisi itu dalam diri seseorang.

1. Belajar meramal masa depan.
Jika Anda menggelar rapat bisnis dengan seorang yang belum dikenal, maka bayangkan penampilan mereka, pakaian yang dikenakan, dan bagaimana pemdekatan bisnis mereka.

2. Membayangkan diri sendiri telah mengerjakan sesuatu sebelum kejadian sebenarnya berlangsung.
Hal ini tidak saja menuntut otak bekerja, tapi juga membandingkan kinerja yang sebenarnya dengan bayangan yang ada di benak Anda.

3. Memperhatikan perasaan dan sensasi batin yang biasanya diabaikan.
Perhatikan gejolak dan perasaan batin Anda. Ini memungkinkan Anda menangkap berbagai perubahan yang mengindikasikan adanya tanda-tanda yang muncul tanpa disadari.

4. membuat jurnal ide.
Tulislah kilasan-kilasan, wawancara dan catatan keputusan. Saat anda merefleksikan catatan tersebut di masa depan, maka anda dapat mengevaluasi seberapa tepat Anda melakukannya.

5. Melakukan meditasi atau belajar self hypnotic.
Insting sering kali muncul pada saat Anda mulai menenangkan pikiran, kemudian berkonsentrasi (pusatkan pikiran pada satu hal) dan menerima ide yang muncul dari pikiran bawah sadar Anda.

6. Memvisualisasikan secara simbolik.
Ketika berhadapan dengan situasi yang bermasalah, ciptakanlah gambaran mental yang mewakili hal ini secara simbolik. Setiap ide kreatif yang muncul dalam benak adalah hasil dari cara memandang situasi secara unik.

dari www.republika.co.id

Sleep Tips

Posted by KangBina on Friday, March 9, 2007 , under , , | comments (0)



If you've had one or two bad nights lately, you can probably solve the problem by taking some of the measures below. These strategies may require you to change your sleeping habits, but the effort is well worth it in the long run.
1. Make your bedroom a haven for sleep.
Your room should be quiet and sufficiently dark, because darkness prompts the pineal gland to produce melatonin, the hormone that regulates circadian rhythms (your 24-hour body clock). Heavy drapes can help keep the light out, and a fan or white-noise machine can help drown out any annoying sounds. Cool temperatures help you sleep, so set your thermostat appropriately. For better air circulation, open a window or use a fan. If the air in the room is too dry, buy a humidifier.
2. Become a creature of habit.
A nighttime routine can be very effective in letting your body know when it's time to sleep. Go through whatever rituals help you get mentally prepared for sleep. (Read a few pages of your novel, spend 5 to 10 minutes on personal grooming, meditate, stretch.) It's also critical to go to bed and get up at the same time every day -- even on weekends.
3. Reserve your bed just for sleeping and sex.
Avoid working, paying bills, reading, or watching television in bed. If you associate your bed only with sleep, you'll be more likely to fall asleep when you get under the covers for the night.
4. Tame your tummy.
Going to bed either hungry or too full can disrupt your sleep. Don't have a big meal too close to bedtime or the digestion process might keep you awake. Also, if you lie down after stuffing yourself you can end up with gastric reflux -- stomach acid backing up into the esophagus. If you're hungry, have a snack rich in carbohydrates, which trigger the release of the brain chemical serotonin, associated with relaxation. Try a graham cracker or bowl of cereal. Pair it with some milk or a slice of turkey, both rich in the amino acid tryptophan, which also induces sleep.
5. Watch the caffeine.
Too much caffeine throughout the day, even if it's not consumed right before bedtime, can contribute to fitful slumber. Once you hit 50, your metabolism slows, so caffeine may stay in your system longer -- up to 10 hours. Limit yourself to two cups of tea, coffee, or cola, taken at least 6 hours before bedtime. If that doesn't work, try cutting out caffeine altogether.
6. Tap the exercise answer.
It's a simple fact: If you're physically tired at the end of the day, you'll sleep better. In a study from Stanford University School of Medicine, a group of 50- to 76-year-olds who had complained of sleep problems began moderate exercise for about half an hour four times a week. Compared with a similar group of people who didn't exercise, the more active group slept an average of one hour more each night, took less time to fall asleep, spent less time napping, and reported an overall improvement in sleep quality. Outdoor exercise is especially helpful. By exposing yourself to sunlight (particularly in the afternoon), you help prevent midday sleepiness and reinforce your body's circadian rhythms. Exercise at least three hours before bedtime.
7. Soak it up.
Take a warm bath an hour or two before bed. Your body temperature will slowly drop after you get out of the tub, making you feel tired. Don't bathe right before bed, however, because it can briefly stimulate you enough to make it hard to fall asleep.
8. Drift off naturally.
Investigate the benefits of chamomile, valerian, kava, passionflower, skullcap, catnip, or hops. These herbs can be taken in tea and other forms. A cup of chamomile tea before bedtime may be all you need to relax. If you're trying valerian, the suggested dose for the concentrated form is equal to two to three grams of the root a day. But don't combine valerian with alcohol or mood-regulating drugs. If you're using kava, try a dose of between 60 and 120 mg before bedtime.
9. Don't toss and turn.
If 30 minutes go by and you haven't fallen asleep, don't lie in bed feeling frustrated. Get up and do something relaxing, like listening to soothing music or flipping through a magazine. Or make yourself a cup of warm milk.
10. Buy the right bed.
A bed that's too soft can cause poor sleep postures (which can also lead to muscle stiffness and back problems). If you're leaving a divot in the mattress when you get up, it's too soft. Replace your mattress if it's more than 10 years old, and buy one that's as firm as you can tolerate but still comfortable.

Financial Tips

Posted by KangBina on , under , , | comments (0)



Just like any goal, getting your finances stable and becoming financially successful requires the development of good financial habits. I've been researching this topic extensively in the last few years in my quest to eliminate debt, increase my savings and increase financial security for my family. I'll talk more about these habits individually, but wanted to list them in a summary (I know, but I'm a compulsive list-maker).
Here they are, in no particular order:
Make savings automagical. This should be your top priority, especially if you don't have a solid emergency fund yet. Make it the first bill you pay each payday, by having a set amount automatically transferred from your checking account to your savings (try an online savings account). Don't even think about this transaction -- just make sure it happens, each and every payday.
Control your impulse spending. The biggest problem for many of us. Impulse spending, on eating out and shopping and online purchases, is a big drain on our finances, the biggest budget breaker for many, and a sure way to be in dire financial straits. See Monitor Your Impulse Spending for more tips.
Evaluate your expenses, and live frugally. If you've never tracked your expenses, try the One Month Challenge. Then evaluate how you're spending your money, and see what you can cut out or reduce. Decide if each expense is absolutely necessary, then eliminate the unnecessary. See How I Save Money for more. Also read 30 ways to save $1 a day.
Invest in your future. If you're young, you probably don't think about retirement much. But it's important. Even if you think you can always plan for retirement later, do it now. The growth of your investments over time will be amazing if you start in your 20s. Start by increasing your 401(k) to the maximum of your company's match, if that's available to you. After that, the best bet is probably a Roth IRA. Do a little research, but whatever you do, start now!
Keep your family secure. The first step is to save for an emergency fund, so that if anything happens, you've got the money. If you have a spouse and/or dependents, you should definitely get life insurance and make a will -- as soon as possible! Also research other insurance, such as homeowner's or renter's insurance.
Eliminate and avoid debt. If you've got credit cards, personal loans, or other such debt, you need to start a debt elimination plan. List out your debts and arrange them in order from smallest balance at the top to largest at the bottom. Then focus on the debt at the top, putting as much as you can into it, even if it's just $40-50 extra (more would be better). When that amount is paid off, celebrate! Then take the total amount you were paying (say $70 minimum payment plus the $50 extra for a total of $120) and add that to the minimum payment of the next largest debt. Continue this process, with your extra amount snowballing as you go along, until you pay off all your debts. This could take several years, but it's a very rewarding process, and very necessary.Use the envelope system. This is a simple system to keep track of how much money you have for spending. Let's say you set aside three amounts in your budget each payday -- one for gas, one for groceries, one for eating out. Withdraw those amounts on payday, and put them in three separate envelopes. That way, you can easily track how much you have left for each of these expenses, and when you run out of money, you know it immediately. You don't overspend in these categories. If you regularly run out too fast, you may need to rethink your budget.Pay bills immediately, or automagically. One good habit is to pay bills as soon as they come in. Also, as much as possible, try to get your bills to be paid through automatic deduction. For those that can't, use your bank's online check system to make regular automatic payments. This way, all of your regular expenses in your budget are taken care of.
Read about personal finances. The more you educate yourself, the better your finances will be.
Look to grow your net worth. Do whatever you can to improve your net worth, either by reducing your debt, increasing your savings, or increasing your income, or all of the above. Look for new ways to make money, or to get paid more for what you do. Over the course of months, if you calculate your net worth each month, you'll see it grow. And that feels great.

at The Kitchen Tips

Posted by KangBina on , under , , | comments (0)



1. Avoid Sticky Rice
Wash the rice a few times until the water runs clear. Remove all the water until no water remains. Let it sit for 20 minutes. This will remove all the starch and help the rice to remain separate.
Also adding a few drops of lemon juice to the rice while cooking, you will find that the grains of rice will tend to remain separate. Top
2. For Crispier Puris Add a teaspoon of Semolina / Rava and 1 teaspoon of Rice flour to the wheat flour while kneading. Top
3. Quick Tomato Paste Cubes : Spoon tomato paste into ice cube trays. Freeze overnight. Transfer into plastic bags and freeze. Frozen cubes can be dropped right into curries. Top
4. Eggplants Retaining Color : When cooking eggplant add a spoon of milk to a bowl of water and add the cut up pieces to that water. The eggplant will retain their color without becoming black. Top
5. Remedy for Salty Curry : Wash a potato. Cut into two. Place a the two halves of the raw potato in the curry and it will absorb the extra salt. Top
6. Ready To Use Masalas Indian cooking requires a lot of pre-preparation. Make wet and or dry the masalas ahead of time making extra portions. Divide the masala into the desired portions according to the recipe. Place the portions in Ziploc Freezer bags and freeze till the next time. A great time saver....for next time you make the same recipe ! Top
7. How to cut an onion without crying ? Indian food requires a lot of onions sometimes. Use sweet onions. Peeling and cutting under running water, chopping near a gas flame, and refrigerating onions before chopping, all methods for reducing the volatility of the sulfide that causes the irritation. Top
8. Alternative to Fresh Coconut Ever try to break open a fresh coconut for making Indian chutney? Well, here is a great alternative. Out here in the US look for UNSWEETENED dry grated coconut. Make sure it is not the sweet kind. Add just enough water so that the coconut is covered with water. Use as directed in the recipe instead of freshly grated coconut. Making chutneys will be a breeze. Top
9. Using Kitchen Scissors Most Indian dishes require the use of freshly chopped coriander leaves as a garnish. Use the scissors to chop fresh mint, chilies and coriander finely and without any mess. Top
10. Buying Lemons and Lime Buy large lemons and limes, they tend to be much sweeter. Make sure that the skin is thin, those are much juicer. To obtain more of the juice from lemons, limes or oranges, microwave on high for 30 seconds and then let stand for a couple of minutes before cutting and squeezing. Rolling them between your hand and the counter will also help release more juice. Top
11. Skinning a Chicken with Ease Have you tried skinning a chicken? Well, always peel off a little part of the skin to start with and hold it tightly with a paper towel. The skin latches on to the paper towel and skinning the chicken...even the tough skin on the chicken legs becomes a breeze ! Try it. Top
12. Overripe Tomatoes Dip them in cold water, add some salt and leave overnight. They will be fresh and firm to the touch the next day. Top
13. Trying New Recipes Remember....Try ONE NEW recipe at a time. Get all your ingredients together. Check the spices for freshness. Lay the spices and ingredients out in the order that they are to be used. Make a plan and get started with ONE easy recipe. Most of all make sure you have the time to make the recipe. Do not try something new at a "rushed time". Top
14. Tips for Making Dosa : To ensure that the griddle (tawa) is hot enough before spreading dosa, sprinkle a little water over it. If it sizzles immediately, then the griddle is hot enough. Wipe with a clean rag or half a raw onion and proceed. Top
15. Tip for making soft chappati dough. While making paneer from milk, don't throw away the paneer water. This nutritious water can be used for making soft dough for chapatis or can be used to cook dals. Top
16. Retaining the "whiteness" of white rice : While cooking rice add a few drops of lemon juice. The color of the grains become bright white. Top
17. Reheating left-over Rice : Refrigerate leftover cooked rice in a well-sealed container. Reheat cold rice with a sprinkling of water in a microwave oven or in a covered pot over low heat. Left over rice is great to have on hand for stirring into soups and broths and for making fried rice — it's perhaps the world's best vehicle for turning leftovers into something fresh and new.Top
18. Peeling a whole Garlic : To peel garlic, place your knife flat on the garlic clove and whack with your other hand. The covering will burst open and the clove can be easily removed. Top
19. Peeling or scraping Ginger : Peeling or scraping ginger with the back of spoon is an easy way to peel ginger. Scrape the ginger with the inside of a spoon, getting the edge of the spoon into the crevices of the ginger. The skin will come off with a gentle scrape. Top
20. Dicing Onions : The best way to avoid crying when dicing an onion is to use a very sharp knife and to move as quickly as safety permits.
Cut off the end of the onion end with the small roots sticking out.
Cut it into half lengthwise, so that the end that is still together is cut into half.
Now remove the skin and may be one of the layers to clean the onion.
Holding your knife parallel to the cutting surface slice the onion parallel to the cutting surface so that you are making slices that are 1/4 inch from each other. Remember to never make a cut that would break through the end of the onion. The onion will come apart if you slice through the bottom end. Remember to never make a cut that would break through the end of the onion. The onion will come apart if you slice through the bottom end.
Turn the onion. Make lengthwise slices remembering not to cut all the way to the end . The onion will still be in one piece and look like half an onion.
Turn the onion and chop the onion all the way to the back of the part that is still together.
You will have perfect small dices of onion.
Now chop the other part of the onion the same way.
Finely chopped onion is a very important ingredient for many Indian curies. Top
21. Avoiding over-spilling milk when boiling : Before pouring milk into a pot for boiling rub butter along the top edge and inside lip of the pot. When the milk foams up, it will stop over spilling when it hits the butter. Top
22. Removing the garlic skins : Use 'Jar Openers'- round flat pieces of rubber. Put the clove of garlic in the center of the jar opener and fold it in half over the garlic. Then press down with your hand while rolling it back and forth over the garlic. Top
23. Instead of Onion : If anyone does not like or want the strong taste of onion, you can use cabbage in the recipe for the same taste and good recipe. Tip submitted by Jyothi Top

CLEANING TIPS
Cure Garlicky Hands
Quick BBQ Grill Clean Up
Cleaning A Messy Blender
Removing Strong odors on your hands
Cleaning Cilantro
Cleaning scratches on wood furniture
Cleaning Coffee pots
1. Cure Garlicky Hands : Immediately after chopping raw garlic or after a marinating process, rub your fingers thoroughly with the bottom of a stainless steel spoon under running water. Then wash your hands with soap. The metal magically neutralizes the garlic fumes! Top
2. Quick BBQ Grill Clean Up : Spray the cooking grill with non-stick spray before placing the grid over the coals. Food won't stick nearly as much as it does on an untreated grill. Top
3. Cleaning A Messy Blender : To clean a blender, add a cup of warm water, run for a few seconds. Now add a drop of dishwashing detergent and another cup of water and blend. Let is sit for a few seconds. Rinse clean. Top
4. Strong odors on your hands (such as onions or fish) can be removed by lightly wetting your hands and then sprinkling on baking soda. Rub the soda all over the hands, then rinse the soda away -- along with the odors. Top
5. Cleaning Cilantro : Plunge into a sink full or pot full of cold water. Swirl around a few times and let sit for a while. The sand, dirt, and other debris will settle to the bottom, and the leaves will float to the top and can be removed. Repeat the procedure if the cilantro is very dirty. Top
6. Cleaning scratches on wood furniture : Rub the same color crayon as the wood on to the scratch. This will fill the scratch. Then clean with mayonnaise. The scratch will disappear. Top
7. Cleaning a coffee pot : Pour a handful of table salt into the dirty coffee pot. Use a dish towel or sponge to rub it around and on the stains. Rinse clean. Top
STORING TIPS
Cilantro
Flour
Ice-Cream
Potatoes
Avoid Staining Tupperware
Storing Cilantro & Mint leaves
1. Buying and Storing Cilantro When buying Cilantro/Coriander leaves at the store, shake out the extra water and dry with a paper towel. Do not rinse until just before using, then rinse well. Storing: As soon as you bring cilantro home from the market, stand it upright in a glass of warm water to give it a final drink, then wrap a wet paper towel around its roots (it will last longer with roots intact). Store in a paper towel in the vegetable crisper drawer. Top
2. Storing Flour :Retain the freshness of plain flour, semolina and gram flour by storing them in the refrigerator and they will remain fresh for a long time. Top
3. Storing Ice -Cream : Store the ice cream container in a big Ziploc plastic freezer bag. This will stop ice crystals from forming when it is in the freezer. Top
4. Storing Potatoes : Store potatoes in a cool dark place. To prevent potatoes from budding, place an apple in the bag with the potatoes! This will prevent the potatoes from budding. Change the apple every week. Top
5. Avoid Staining Tupperware : Before storing tomato-based sauces or Indian curries with lots of turmeric powder or other foods that can stain, spray your plastic storage container with nonstick cooking spray. Top
24. Storing Cilantro & Mint leaves : Clean, wash and chop cilantro or mint leaves finely. Fill each cube in a ice cube tray with the finely chopped cilantro or mint leaves. Top each cube with cold water and freeze. The cilantro or mint cubes can be dropped into curries etc. on an as needed basis. Tip submitted by Meenal Top

Tips Membaca 2

Posted by KangBina on , under | comments (0)



Ngomong-ngomong, ada aplikasi web yang bisa membantu kita untuk belajar membaca cepat, yaitu ZAP Reader dan Spreeder. Dengan aplikasi ini kita bisa meng-copy-paste bahan yang hendak dibaca atau menuliskan alamat Internetnya. Kita juga bisa mengatur kecepatan membaca yang diinginkan, misalnya 300 wpm (word per minute - kata per menit). Jadi nantinya kita dijamin sedang membaca dengan kecepatan 300 wpm ! Asyik kan ? Kita bisa mengatur sendiri seberapa cepat kita ingin membaca.


Setelah itu tekan tombol ‘Play’ dan apa yang terjadi ? Aplikasi ini bakal “melemparkan” kata per kata di depan mata kita ! Kecepatannya sesuai dengan yang kita atur. Dengan aplikasi ini paling tidak ada tiga keuntungan yang kita dapatkan:

Mata kita cukup fokus ke satu tempat
Yup, mata kita tidak perlu bergerak ke kiri ke kanan seperti biasanya waktu membaca. Cukup pusatkan ke satu tempat di layar.
Kita diajar menghilangkan subvokalisasi
Seringkali kata-katanya dilempar begitu cepat sampai kita tidak sempat “menyuarakan” di dalam pikiran kita ! Dengan begitu kita mau tak mau “dipaksa” untuk membaca tanpa subvokalisasi.
Kita “dipaksa” untuk maju terus
Ini asyiknya: dengan aplikasi ini kita sama sekali tidak bisa kembali ke belakang ! Pokoknya kita dipaksa untuk maju dan maju terus !
Jadi bisa dibilang aplikasi ini sangat baik untuk melatih kita membaca cepat. Pertama-tama tentu belum terbiasa, seperti saya sekarang . Tapi lambat laun kita pasti bakal menuai hasilnya.

www.gayahidupdigital.com

EASY Tips Membaca Cepat

Posted by KangBina on , under , , | comments (0)



Membaca cepat
1.Menghilangkan subvokalisasi
Subvokalisasi ini adalah suara yang biasa “ikut membaca” di dalam pikiran kita. Jadi waktu kita membaca, di dalam pikiran kita seperti ada suara yang menyuarakan bacaan itu. Ternyata ini sangat menghambat kecepatan membaca, karena otak kita sebenarnya mampu membaca dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada suara di dalam pikiran kita itu. Karenanya salah satu teknik membaca cepat adalah dengan menghilangkan suara ini. Tidak mudah memang karena sudah jadi kebiasaan bertahun-tahun, tapi bagaimana pun kita perlu belajar melakukannya.
2.Jangan kembali ke belakang
Nah, ini malah lebih sulit lagi. Kalau kita sudah melewati suatu bagian bacaan maka jangan sekali-kali mengulang lagi bagian itu. Baca terus dan maju terus. Ada yang terlewat ? Jangan hiraukan, maju terus ! Ada kata-kata yang hilang ? Jangan hiraukan juga, maju terus ! Pokoknya maju terus pantang mundur ! Intinya di sini adalah kita harus membaca untuk mendapatkan ide, bukan untuk mendapatkan kata per kata
Kembali ke belakang akan sangat mengurangi kecepatan membaca kita sementara dengan maju terus toh idenya akan kita dapatkan.
www.gayahidupdigital.com